Pengertian Pajak, Fungsi dan Jenis – Jenisnya

Menurut UU KUP Nomor 28 Tahun 2007 pasal 1 ayat 1, Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Mengapa harus bayar pajak?

  • Pajak digunakan untuk membiaya belanja negara
  • Bayangkan tidak ada pembayaran pajak, maka tidak ada belanja negara dan pembangunan tidak dilakukan
  • Sebagai warga negara, kita mendapatkan pendidikan, perlindungan, kesehatan, bahkan pendapatan di Indonesia, maka wajib untuk berkontribusi ke negara

Penerimaan pajak hanya 83,5% dari total pendapatan negara, dan tiap tahun pertumbuhan penerimaan pajak masih sekitar 10an%. Karena pendapatan negara belum sepenuhnya dapat membiaya belanja negara, maka ada defisit. Defisit ini ditutupi oleh hutang, baik dalam negeri atau luar negeri.

Jenis-jenis Pajak :

  • Pajak subyektif: pajak yang pengenaannya pertama-tama memperhatikan pribadi / kondisi wajib pajak (subjek), kemudian menetapkan objek.
    • Pajak subjektif memperhatikan kaya tidak nya, berapa besar penghasilannya sehingga lebih adil kontribusi ke negara. Semakin besar pajaknya, maka semakin besar pula penghasilannya. Pajak ini dikenakan atas penghasilan yang didapatkan.
  • Pajak obyektif: pajak yang dikenakan memperhatikan objeknya berupa benda, keadaan, perbuatan, peristiwa yang menimbulkan utang pajak tanpa melihat subyeknya
    • Pajak objektif tidak memperhatikan seseorang kaya atau tidak, tetap dikenakan pajak. Semua ikut berkontribusi ke negara. Pajak ini, dikenakan atas transaksi pembelian.
  • Jadi kita dikenakan dua pajak sekaligus? Atas penghasilan yang didapatkan (PPh)  / uang masuk dan atas barang-barang yang dibeli (PPN) / uang keluar.

Siapa saja yang dipajaki ?

  • Subyek pajak yaitu siapa saja yang akan dipajaki atau biasa disebut wajib pajak, ada 4 yaitu
    • Orang pribadi
    • Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak 
    • Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, contoh PT, CV, Yayasan
    • Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia 
  • Objek pajak
    • Penghasilan dan pendapatan yang diterima
    • Barang & Jasa yang dijual

Bagaimana cara pelunasan Pajak ?

Ada 2 cara melunaskan pajak yaitu:

  • Pertama, Pembayaran langsung dengan cara membuat tagihan dulu di web djponline, karena konsep pajak kita adalah self-service. Lalu membayarkan tagihan tersebut dengan kode tagihan, mirip dengan pembayaran listrik
  • Kedua, Dipotong dan dipungut pihak ketiga karena pihak ketiga memiliki kewajiban untuk memotong & memungut pajak
    • Bukti potong & bukti pungut yang diberikan pihak ketiga akan menjadi kredit pajak atau tabungan pajak yang dapat digunakan sebagai pengurang pajak terutang

Kemudian setelah bayar pajak harus apa?

Setelah bayar pajak, kita wajib melakukan pelaporan data pajak dan juga data pembayaran. Pelaporan saat ini tidak perlu datang ke KPP karena sudah ada DJPOnline atau pihak ketiga yang menyediakan jasa pelaporan secara online. 

Setelah dilaporkan, akan mendapatkan BPE atau bukti penerimaan elektronik, yaitu bukti bahwa kita sudah melaporkan pajak. Kita harus mengarsipkan dokumen atau SPT Induk beserta lampiran, BPE, dan bukti pembayaran, bisa dalam softcopy atau hardcopy untuk dibutuhkan ketika akan dilakukan audit pajak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *